Monday, February 16, 2009

Antara Agama dan Spiritualitas

Pada masa kita kecil, kerapkali kita diajarkan mengenai agama dan Ketuhanan melalui pola hitam putih : surga dan neraka. Anak baik masuk surga, anak jahat masuk neraka. Kendalanya adalah, bahwa apa yang “baik” dan apa yang “buruk” seringkali ditentukan oleh subjektifitas dari para pendidik awal kita : orangtua kita sendiri dan orang-orang yang berperan dekat di dalam lingkungan dimana kita dibesarkan.


Kita, sebagai seorang manusia kecil yang masih polos dan belum mengenal konsep “dosa” (serta “pahala”), anak-anak yang memandang dunia dengan penuh rasa keingintahuan tanpa kenal takut sebagai tempat petualangan terbesar dan menantang, mulai dijejali konsep-konsep yang “benar” menurut orangtua kita dan telah “diwariskan” dalam keluarga kita.


Menurut hasil penelitian mengenai sel-sel otak; diketahui bahwa pada awal mulanya pertumbuhan manusia, sel-sel tersebut bagaikan “spons” yang dapat dibentuk sesuka hati sesuai dengan input yang “diprogramkan” ke dalam otak, terutama pada masa-masa awal pertumbuhan kita (usia nol bulan hingga kurang lebih 7 tahun; Reff. Daniel Goleman & Taufik Pasiak). Seiring dengan kompleksitas input dan pembelajaran, sel-sel otak tersebut saling membentuk hubungan fisik, kait mengkait, dan berkembang menjadi lebih besar dan lebih kompleks. Kiranya dalam hal ini benar pepatah yang mengatakan bahwa dalam hal pikiran, berlaku “use it or loose it”. Gunakan otakmu, atau sedikit demi sedikit kamu akan kehilangan massa sel pembentuk otak dan lama kelamaan benar-benar akan menjadi bodoh. Gejala pikun pada manula dapat diatasi dengan metoda pembelajaran tiada henti. Begitu kita berhenti belajar, pada saat itu pula otak kita berhenti bekerja dan berlatih, dan mulai mengkerut.


“Programming” yang dijalankan kepada kita pada masa kecil dapat beragam tergantung kepada penginput data (orangtua kita) dan pelatihan kita (pengkondisian lingkungan masa kecil). Mungkin kita pernah mengalami, dan mengingat, baik secara sadar ataupun tidak, beberapa “program dasar” yang ditanamkan kepada pikiran kita semenjak kecil. Misalnya, bahwa “memegang atau bermain dengan kemaluan itu dosa”, “main tanah itu kotor”, “lelaki harus main perang-perangan dan perempuan harus main rumah-rumahan”, “lelaki main mobil-mobilan dan boneka untuk anak perempuan”, dan berbagai program lainnya. Ada pula “program-program bayangan” yang tidak dimaksudkan untuk diinput ke dalam otak kita namun toh terinput juga baik disadari maupun tidak, misalnya bayangan akan perkelahian rumah tangga diantara kedua orangtua kita yang diwarnai oleh kata-kata kasar dan kotor. Juga, mungkin diantaranya adalah kata-kata berbau rasisme yang terlontar secara tidak sengaja seperti “orang Cina dan Padang pelit-pelit”, “orang Jawa munafik”, “orang Manado gila belanja”, “orang Sunda matre”, dan berbagai stereotype lainnya.


Keseluruhan input ini, baik yang ditanamkan secara sengaja ataupun tidak, semuanya dimasukkan ke dalam CPU manusia yaitu otak kita, dan sebagai hasilnya keluarlah output berupa sikap, perilaku, tindak tanduk, ucapan, dan lainnya. Pepatah mengatakan, “buah tak mungkin jatuh jauh dari pohonnya” (kecuali kalo buahnya udah dipanen duluan di pohon terus dijual, hehehe). Demikian pula dengan agama yang kita anut; pada umumnya agama si anak bergantung kepada agama orangtuanya. Dan agama orangtuanya bergantung kepada agama kakek-neneknya. Bukankah begitu? (Bukaann…)


Danah Zohar & Ian Marshall (Spiritual Quotient, Mizan Pustaka) mengemukakan teori “God Spot”. Teori ini menyatakan bahwa dalam bagian otak manusia terdapat satu bagian yang “memang dari sananya” sudah diprogram secara hardware & software untuk berpikir mengenai Tuhan dan masalah-masalah Ketuhanan. Berdasarkan hasil penelitian mereka mengenai otak (yang didukung dengan percobaan ilmiah di laboratorium), terdapat satu bagian – atau komponen khusus – di dalam otak kita yang inheren berbicara mengenai Tuhan & Ketuhanan. “Tuhan & Ketuhanan” disini bukanlah “Tuhan” dalam artian agama tertentu, melainkan “Tuhan” sebagai suatu Kuasa Adi Alami, Kuasa Adiluhung & Supernatural yang berperan dalam menentukan nasib manusia.


Mengapa bukan “Tuhan” dalam arti agama? Karena “agama” yang kita kenal sekarang tidak terlepas dari sejarah dan bentukan peradaban manusia yang berbicara dalam bahasa yang berbeda serta hidup dalam pengkondisian budaya yang beragam. “Agama” yang kita kenal sekarang telah ‘hidup’ selama ribuan tahun; contohnya, agama Kristen telah hidup setidaknya selama kurang lebih 2000 tahun. Islam hidup selama kurang lebih 1400 tahun. Hindu dan Buddha, serta Kong Hu Cu, bahkan telah hidup jauh lebih lama daripada itu; dan sampai sekarang, agama-agama tersebut serta kepercayaan tersebut tetap hidup dan dilestarikan secara turun temurun oleh para penganutnya. Agama terdiri dari satu set ajaran dan dogma; yang dilandasi oleh kepercayaan dan keimanan akan keberadaan suatu Kuasa Adi Alami yang Intelektual, Imanen, dan Supernatural. Ajaran dan dogma dapat berkembang dan dapat dipengaruhi oleh perbedaan zaman, waktu, budaya, tempat, dan adat istiadat; namun inti dari ajaran tersebut (dalam hemat saya) tetaplah sama, yaitu mengajarkan adanya suatu Kuasa Tak Terbatas yang Maha Pencipta.


Karena itu, mereka (Zohar & Marshall) memisahkan antara “agama” (seperangkat ajaran, dogma, & peraturan) dan “spiritualitas” (kepercayaan akan Kuasa Adi Alami). “Tuhan” menurut agama bisa disebut dengan nama yang berbeda dan disembah dengan cara yang beragam sesuai dengan dogma agama masing-masing; namun “Tuhan” dalam spiritualitas adalah Universal, Maha Pencipta, Maha Pemelihara, Akal Intelektual yang menjadi Sebab Segala. Dalam definisi ini, seorang atheis yang mengutuk ajaran agama sebagai candu dan menolak untuk menganut agama tertentu dapat saja disebut sebagai “beriman” secara spiritual apabila ia mengakui keberadaan suatu Kuasa Adi Alami yang mengatur hidup manusia dan menciptakan segalanya.


Kepercayaan terhadap Kuasa Adi Alami yang mengatur segala (Spiritualitas) telah tertanam di dalam otak kita secara hardware, “dari sananya”, namun program yang hendak kita isikan ke dalam God Processor Unit (GPU) tersebut adalah tergantung dari diri kita sendiri sebagai manusia yang dapat memilih dan berakal budi. Ada yang mengisi GPU tersebut dengan OS (Operating System) ala Timur Tengah (agama-agama Ibrahimiyah – Yahudi, Kristen, Islam), ada yang mengisinya dengan ajaran Timur lainnya (Hindu, Buddha, Kong Hu Cu), dan ada juga yang memilih OS lain karena merasa “tidak compatible” dengan OS dari 6 ajaran agama besar. Tidak semua orang mau dan mampu menggunakan Microsoft Windows XP. Boleh dong, pakai Linux sebagai OS. Atau pakai bajakan. Dual System dalam satu GPU ? Hemm, kalo nda takut errorr ya silahkan saja dicoba.


Semasa kita kecil dan belum dapat membaca serta menulis, sudah sewajarnya orangtua kita mengisikan program yang paling tepat (menurut mereka) kepada otak kita. Yaa…kalau komputernya belum bisa pakai Windows Vista, pakai DOS dulu sebagai OS, nanti ngetiknya pakai Wordstar, spreadsheetnya pakai Lotus. Nanti begitu sudah besar, bisa upgrade sendiri, mau pakai Linus, Windows XP, atau bajakan, terserah yang punya kepala. Wong udah gede koq. Sudah bisa input data sendiri, prosessing dan outputnya sudah otomatis.


Pilihan. Saya (pribadi) berpendapat, bahwa “agama” adalah pilihan; sedangkan “spiritualitas” adalah takdir (sesuatu yang sudah inheren dalam otak kita dari sananya). Tuhan (atau siapapun namanya, pokoknya Yang Menciptakan manusia) sudah memberikan GPU (God Processing Unit) dalam otak manusia sebagai hardware, sedangkan untuk OS dan softwarenya silahkan pilih sendiri mana yang paling compatible dengan diri kita. Tentunya, semua penjual software akan berkata bahwa programnya lah yang paling baik. Yaa, namanya juga orang jualan. Namun, kembali kepada diri kita sebagai “pembeli” atau “konsumen” dari ajaran-ajaran agama (eh, maaf, software!) : OS mana yang paling cocok bagi diri kita? OS mana yang paling ok menurut kita?


Dan ingatlah, karena otak kita (secara fisik) dapat mengembang dan mengkerut, tentunya semakin dewasa diri kita (dan semakin banyak belajar), kemampuan Processing Power kita akan meningkat. Program isian atau bajakan yang diinput oleh orang tua kita pada masa kecil mungkin tidak akan memadai lagi pada saat ini. Ibarat sebuah komputer berprosesor Pentium 4 dengan speed 3,5 Mhz; bisa saja menjalankan program DOS 6.0 dengan Wordstar & Lotus, namun kemampuannya menjadi mubazir dan akibatnya, kita melihat komputer tersebut sebagai “biasa saja”. Percuma dong, punya komputer seharga 6 juta buat pake ngetik doang. Rugi amat…kalau buat ngetik doang, belilah mesin tik elektrik seharga 500 ribu, sudah sangat amat nyaman untuk mengetik. Dengan harga 6 juta, komputer tersebut sudah seharusnya bisa dipakai untuk word processing (bukan sekedar mengetik), spreadsheet, bikin presentasi, muter DVD, nyetel MP3, ngedit foto, nyimpen video, game 3D, dan lain-lain…tapiiii…ga mungkin kalo OS nya masih pake MS DOS. Harus diupgrade dulu jadi Windows XP (atau Linus deh ya, kalo ga suka ama Bill Gates).


Duuh, sodara-sodara, maap ya, saya bahasanya acak-acakan. Ternyata, ga gampang yah nulis serieus (kaya nama band dari Bandung aja yg nyanyi : rocker juga manusia…blogger juga manusiaa…). Udah dulu ya, udah 4 halaman A4 nech. Nanti yang baca (kalo ada yg minat baca) bosen n cape dengan tulisan amburadul serta tak berarti ini. Ok pamiarsa, wilujeng enjing, nyuwun pangapunten, matur sembah nuwun, thanks for all, please forgive me, tararengkyu, haturnuhun, mangga, wassalamm….


(Padang, 3 September 2006)

No comments:

Post a Comment